JAKARTA -- Film produksi Pal 8 Pictures yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori 'Laut Bercerita' karya sutradara Yosep Anggi Noen akan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober mendatang.
Berlatar Indonesia pada akhir 1990-an, Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut dan sekelompok anak muda yang berani memperjuangkan keyakinan mereka di tengah situasi penuh ketidakpastian, Selasa (20/10/2026).
Namun, di balik perjuangan tersebut, film ini juga menghadirkan kisah persahabatan, cinta, keluarga, kehilangan, dan harapan yang terus hidup. Melalui perjalanan Biru Laut dan orang-orang terdekatnya, Laut Bercerita mengajak penonton melihat bagaimana sebuah perjuangan tidak hanya menjadi milik mereka yang berada di garis depan, tetapi juga keluarga dan orang-orang yang terus menanti, mencari, dan menjaga ingatan.
Meski berlatar akhir 1990-an, Laut Bercerita mengangkat persoalan yang tetap relevan hingga hari ini, tentang keberanian menyuarakan keyakinan, pentingnya keadilan, serta daya tahan manusia dalam menghadapi kehilangan.
Sutradara sekaligus penulis skenario Yosep Anggi Noen melihat kisah perjuangan anak muda dalam Laut Bercerita sebagai bagian dari pengalaman yang juga terjadi di berbagai tempat dan masa.
"Kisah-kisah tentang gerakan anak muda yang melawan ketidakadilan dan memperjuangkan demokrasi terjadi di berbagai era dan di seluruh dunia. Penting bagi sebuah film untuk menumbuhkan kesadaran tentang perjuangan melawan kekerasan dan perjuangan menuntut keadilan," ujar Yosep Anggi Noen.
Bagi Reza Rahadian, yang memerankan Biru Laut, kisah anak-anak muda dalam film ini juga membawa harapan tentang peran generasi muda dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
"Film ini mewakili suara anak-anak muda dan bentuk kepercayaan bahwa vita mash nurani mereka," kata Reza Rahadian.
Salah satu kekuatan cerita Laut Bercerita terletak pada bagaimana film ini menghadirkan perjuangan dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya melalui Biru Laut dan sahabat-sahabatnya di kelompok Winatra, tetapi juga melalui keluarga dan orang-orang terdekat yang harus menghadapi ketidakpastian.
Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara memerankan Ibu dan Bapak Wibisana, ayah dari Biru Laut, sepasang orang tua yang harus menjalani penantian panjang. Sementara itu. Yunita Siregar memerankan Asmara Jati, adik Biru Laut yang berusaha mencari kebenaran sekaligus menjaga harapan keluarganya.
Kehadiran tokoh-tokoh perempuan juga menjadi bagian penting dalam cerita. Kinan, yang diperankan Dian Sastrowardoyo, hadir sebagai salah satu pemimpin kelompok Winatra. Anjani mengekspresikan pandangannya melalui karya seni, sementara Ibu dan Asmara memperlihatkan bentuk perjuangan lain melalui penantian dan pencarian kebenaran.
"Para perempuan di Laut Bercerita memberikan bentuk-bentuk perjuangan yang berbeda. Kinan sebagai pemimpin pergerakan yang dihormati, Anjani dengan karya seninya, Ibu, yang berjuang untuk terus menanti anaknya pulang, dan tentu saja Asmara Jati yang berjuang untuk terus mencari kebenaran. Itu adalah bentuk-bentuk menyuarakan perubahan dengan cara yang berbeda," ucap Yunita Siregar
Penulis novel sekaligus penulis skenario Leila S. Chudori juga menekankan pentingnya kehadiran tokoh-tokoh perempuan dalam kisah ini.
"Saya merasa penting tokoh-tokoh perempuan di film ini ditampilkan. Sebagai sosok-sosok yang kuat dan melakukan bentuk-bentuk perjuangan mereka secara berbeda," ujar Leila S. Chudori.
Melalui beragam karakter tersebut, Laut Bercerita memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada mereka yang berani bersuara, ada yang terus mencari, dan ada pula yang bertahan dalam penantian. Masing-masing memiliki cara untuk menjaga harapan
Perjalanan Laut Bercerita di Busan International Film Festival 2026 menjadi salah satu pencapaian penting bagi film panjang perdana Pal 8 Pictures. Setelah diperkenalkan kepada kisahnya berasal.
Kisah yang berangkat dari novel dan kemudian dihidupkan melalui medium penonton internasional, film ini kini bersiap menemui penonton di Indonesia, tempat sinema ini diharapkan dapat menjangkau penonton lintas generasi, baik mereka yang telah mengenal ceritanya melalui novel maupun yang baru akan berkenalan dengan Biru Laut dan orang-orang terdekatnya.
"Pal 8 Pictures percaya bahwa film bisa menjadi medium yang menyuarakan kebebasan berekspresi. Kami berharap melalui Laut Bercerita, kisah ini juga bisa memberikan penghormatan terhadap perjuangan dan resiliensi kita semua saat ini," ungkap produser sekaligus Direktur Pal 8 Pictures Budi Setyarso.(Gbr)