JAKARTA-- Ketegangan di film Kuncen dibangun melalui setting atmosfer gunung yang sunyi, kabut tebal, dan hal-hal misterius. Penonton akan merasakan setiap sudut di hutan dan gunung menjadi sumber ancaman. Film ini menghadirkan pengalaman horor yang emosional, membawa ketegangan yang terasa nyata dan akan membekas lama di benak penonton.
Selain nuansa horor, film Kuncen juga membawa tema persahabatan. Mengeksplorasi ketakutan terhadap
hal gaib yang turut menguji hubungan antar teman, sekaligus menyentuh nilai
budaya dan spiritual lokal yang dipercaya masyarakat.
“Dalam kepercayaan lokal masyarakat kita, gunung bukan cuma alam fisik, tapi juga
menjadi tempat tinggal roh leluhur dan penjaga alam. Ada kebiasaan yang telah
menjadi common knowledge di antara para pendaki dan juga masyarakat di sekitar
pegunungan, izin ke Kuncen atau Juru Kunci berarti menghormati mereka yang
‘menjaga’ sebelum manusia datang. Di film ini, kami ingin menunjukkan bahwa
Kuncen adalah penjaga adat sekaligus keselamatan, bukan cuma penjaga alam
mistis,” ujar produser Rahul Mulani.
Disutradarai oleh Jose Poernomo, film Kuncen diproduseri oleh Rahul Mulani
bersama Fadi Iskandar dan Neivy Vilany. Atta Halilintar turut bergabung menjadi
produser eksekutif di film ini bersama Heera Syahir, Roan Yandie Anpira, Azmi
Yansyah Siregar, dan Kemal Temenggung. Kuncen dibintangi di antaranya oleh
Azela Putri, Davina Karamoy, Cinta Brian, Mikha Hernan, Vonny Felicia, dan Sara
Wijayanto.
Di film ini, Sara Wijayanto tampil menjadi sosok misterius yang menjadi kunci
keselamatan dari para karakter utamanya dalam sebuah misi penyelamatan. Ia hadir
dengan tampilan yang berbeda. Meski penampilannya singkat, namun Sara berhasil
memberikan kesan yang mendalam dan memberikan pemaknaan terhadap jalannya
cerita di film ini.
“Meski film ini memiliki latar setting lokal dengan unsur mistis dari budaya lokal
dari desa dekat pegunungan, namun permasalahan dan solusi yang ditampilkan di
film ini adalah dari para karakter yang tinggal di kota. Jadi berbagai dinamika
selama pendakian itu juga akan membawa kedekatan ke penonton muda tentang
ketidaktahuan mereka pada apa yang terjadi sebenarnya di gunung dan akibat
fatalnya,” ujar sutradara Jose Poernomo.
“Di film Kuncen saya banyak belajar dari teman-teman produser bagaimana
membuat sebuah karya film untuk menjadi lebih baik lagi. Ini jadi momen saya
untuk bisa mengambil pelajaran dari banyak pelaku perfilman yang lebih
berpengalaman dan bisa saya gunakan ke depannya,” tambah produser
eksekutif Atta Halilintar.
Azela Putri, menuturkan pengalaman menegangkannya saat syuting Kuncen. Salah satu tantangan yang paling berat adalah ketika ia harus beradegan di liang kubur. Sementara itu, di film ini, Jose Poernomo memanfaatkan setting asli kuburan yang ada di lokasi, yang menambah suasana mencekam yang tergambar di dalam film.
Azela juga menuturkan pengalaman dirinya yang hampir kesurupan. “Jadi ada salah satu pemeran kuntilanak yang saat di lokasi itu berteriak. Aku kira itu Vonzy yang lagi ambil adegan. Teriakannya itu nonstop. Aku akhirnya lari pengen lihat seperti apa, eh tahunya ternyata ada yang kesurupan. Begitu teriakannya berhenti, tiba-tiba itu seperti mau berpindah ke aku. Jadi aku mengalami hampir mau kesurupan, itu rasanya ubun-ubunnya seperti mau ditarik,” cerita Azela Putri.
Sementara itu, Davina Karamoy menyatakan bermain di film Kuncen menjadi hal
baru baginya. Ia yang pada dasarnya lebih menyukai pantai, harus menerima tantangan saat mendaki gunung. Terlebih, karakter yang diperankannya, Diska, adalah sosok yang tidak familiar dengan naik gunung.
“Jadi saat syutingnya, aku harus pakai celana pendek dan semacam rompi sleeveless. Aku lumayan tersiksa di sana karena sangat kedinginan. Sementara teman-teman cast yang lain itu pakai double coat dan sweater. Jadi tiap cut adegan itu aku selalu minta selimut karena dingin banget,” pungkas Davina Karamoy.(Gbr)