Toolkit Sebagai Alat Advokasi Dalam Dampak Perubahan Iklim


JAKARTA-- Perubahan iklim sering dibahas sebagai teknis dan sangat lekat dengan lingkungan. Sejak awal perubahan iklim adalah isu keadilan perubahan iklim yang tidak pernah netral, baik secara sosial maupun secara gender. Kebijakan tentang iklim yang dirumuskan hari ini akan menentukan siapa yang terlindungi dan siapa yang tertinggal di masa depan. Hal tersebut diungkapkan Head of programmes UN Women Indonesia, Dwi Yulianti dalam 
Peluncuran Toolkit dan Diskusi Publik "Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender", Senin (9/2/2026).

Menurutnya, Dampak krisis iklim tidak berdiri sendiri, berkelindan dengan gender, usia, disabilitas, wilayah, kelas sosial, mata pencaharian serta norma yang mengatur kehidupan sehari-hari ketika kebijakan gagal melihat persilangan ini kebijakan tersebut gagal menjangkau mereka yang paling terdampak.

"Dalam konteks inilah penting bagi kita semua untuk memahami bahwa perempuan muda, kelompok orang muda, bukan sekedar kelompok sasaran tambahan. Tapi mereka termasuk dalam kelompok yang hidup paling lama dengan konsekuensi kebijakan iklim yang kita buat hari ini. Baik untuk keberhasilannya maupun kegagalannya," ungkapnya.

Dwi juga menuturkan jika perspektif orang muda tidak dihadirkan sejak sekarang, maka kebijakan iklim akan berisiko mengulang pola yang lama, solusi jangka pendek yang mengabaikan keadilan jangka panjang.

Beliau juga menjelaskan Toolkit sebagai alat advokasi dan seperti semua alat advokasi kekuatannya terletak pada kejelasan tujuan dan penjelasan subjek yang diperjuangkan,  toolkit ini ditunjukkan bagi organisasi dan gerakan iklim yang dipimpin oleh orang muda khususnya perempuan muda yang bekerja di tingkat komunitas dan berada di garis depan.

"Dampak positif toolkit ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan suara komunitas melainkan untuk memperkuat kapasitas advokasi mereka, agar dapat masuk dan bertahan di ruang kebijakan yang seringkali tertutup," jelasnya.

Kemudian Koordinator Pokja Pemantauan dan Evaluasi Adaptasi Perubahan Iklim Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Nuraeni juga menegaskan sangat penting pada saat 
mendefinite kelompok muda dan perempuan dalam proses pengambilan kebijakan serta regulasi.

"Kebijakan harus berjenjang dari tingkat yang lebih kecil. Dimana akan kelihatan apa yang perlu diperhatikan dalam proses regulasi. Karena saat ini iklim yang ekstrim dipengaruhi oleh perubahan iklim, dan akibatnya juga meluas karena tujuan pada saat perubahan iklim tujukan untuk dedikasi mengurangi emisi dan dalam hal ini ada aspek gender dan kelompok muda apa sih yang sifatnya ke konseptual," tegasnya.

Terkait dengan Toolkit, Nuraeni mengatakan 
Project yang di dorong anak muda, perempuan dan kaum marjinal dibutuhkan juga aksi nyata, karena pemerintah butuh rumusan kebijakan.  

"Kalau dari project ini lahir program yang sustainable maka kita akan adopsi bukan sekedar project yang lulus proposal nya lalu tidak lahir program didalamnya," katanya.

Di kesempatan yang sama Tim Penulis Toolkit, Hibban Ar Royan berharap dengan adanya toolkit, masyarakat bisa menjadi  perpanjang tangan supaya Indonesia makin maju dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.(Gbr)

0/Post a Comment/Comments

Stay Conneted

Domain