-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemerintah Umumkan Lebaran Jatuh Pada Sabtu 21 Maret 2026

Kamis, 19 Maret 2026 | Maret 19, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-19T17:32:33Z

RADAR-BARRU.COM,- Setelah ditunggu-tunggu dengan penuh rasa penasaran dan berdebar-debar apakah Lebaran tahun ini antara pemerintah dengan Muhammadiyah untuk kali pertamanya akan bersamaan akhirnya tiba. Namun yang terjadi sangat mengejutkan. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Keputusan ini diambil dalam Sidang Isbat yang digelar pada Kamis (19/3/2026) di Jakarta. Dengan pengumuman dari Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar malam ini, menunjukkan penetapan Hari Raya Lebaran ini kembali berbeda dengan jadwal yang diumumkan Muhammadiyah.

Seperti diketahui Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah jatuh pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2026. 

Dengan demikian maka Lebaran akan dirayakan dua kali. Pertama jemaah Muhammadiyah akan menggelar Shalat Ied pada tanggal 20 Maret sehari kemudian pemerintah akan menggelar kegiatan Shalat Ied pada hari Sabtunya 21 Maret yang juga sama dengan penetapan dari Nahdlatul Ulama (NU).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa penetapan tersebut didasarkan pada hasil hisab (perhitungan astronomi) serta laporan rukyat hilal yang tidak berhasil melihat bulan sabit awal Syawal. “Dengan demikian berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu tanggal 21 Maret 2026,” ujarnya saat memimpin sidang.


Sidang Isbat diawali dengan pemaparan posisi hilal oleh tim ahli yang tergabung dalam Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kementerian Agama. Pemaparan tersebut menggunakan metode hisab untuk menentukan posisi bulan secara astronomis sebagai dasar awal penetapan.

Berdasarkan kriteria MABIMS, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Namun, pada 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026, posisi hilal di Indonesia belum memenuhi kriteria tersebut.

Ahli astronomi Kementerian Agama, Cecep, menjelaskan bahwa tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada pada kisaran 0,91 hingga 3,13 derajat, dengan elongasi antara 4,54 hingga 6,10 derajat. Kondisi ini membuat hilal secara teoritis tidak mungkin terlihat.

"Di seluruh wilayah Indonesia tidak memenuhi syarat visibilitas hilal dan rukyat MABIMS, sehingga hilal diprediksi tidak mungkin dirukyat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa hisab bersifat informatif, sementara rukyat menjadi konfirmasi dalam proses penentuan awal bulan Hijriah. Karena tidak ada laporan hilal terlihat, maka bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).(*) 
×
Berita Terbaru Update