-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketika Buku yang Mencari Pembaca: Lingkar Kecil yang Menolak Sepi di Rumah Buku SaESA

Rabu, 01 April 2026 | April 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-01T12:12:52Z

RADAR-BARRU.COM— Sore tidak lagi sekadar peralihan waktu. Ia berubah menjadi ruang temu yang sengaja dirawat. Di halaman Bookmerchs, lingkar kecil itu terbentuk—bukan karena kebetulan, tetapi karena kesadaran yang perlahan tumbuh: bahwa membaca tidak cukup dilakukan sendiri, ia perlu dipertemukan.

Lingkar Baca Rumah Buku SaESA hadir tanpa gegap gempita. Tidak ada panggung, tidak ada jarak. Hanya buku, rumput sederhana, dan orang-orang yang memilih duduk melingkar. Di situlah literasi menemukan dirinya—ia kembali ke bentuk paling jujur: percakapan.

Eva, fasilitator kegiatan, tidak banyak memberi instruksi. Ia justru menegaskan sesuatu yang sering dilupakan: merawat yang seharusnya dirawat, menjaga yang seharusnya dijaga. Kalimat itu tidak terdengar seperti slogan, melainkan seperti pengingat bahwa ruang literasi bisa hilang bukan karena tidak ada buku, tetapi karena tidak ada yang mau tinggal.

Program “April Bulukumba Membaca” di Bontonyeleng menemukan bentuk lain melalui Lingkar Baca. Ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan dari denyut yang sudah lama dihidupkan oleh Rumah Buku SaESA. Ada kesinambungan yang tidak dipaksakan—ia mengalir dari pertemuan ke pertemuan, dari satu pembaca ke pembaca lain.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 17.30 WITA itu terasa singkat, tetapi cukup untuk membuktikan satu hal: literasi tidak membutuhkan waktu panjang, ia hanya membutuhkan konsistensi.

Di tengah lingkar, suara peserta menjadi bagian dari teks yang tak tertulis. “Bagus ini kalau setiap minggu ki adakan, kak,” ujar Noval. Sebuah usulan yang sederhana, tetapi menyimpan harapan besar—bahwa pertemuan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda, melainkan menjadi kebiasaan.

Lingkar Baca, pada akhirnya, bukan sekadar metode. Ia adalah sikap. Tentang bagaimana manusia memilih untuk tidak berjalan sendiri di antara buku-buku. Tentang bagaimana membaca tidak lagi menjadi aktivitas sunyi, tetapi menjadi peristiwa sosial yang mengikat.

Harapannya pun tidak muluk. Cukup agar kita tetap melingkar di antara buku—bukan sebaliknya, di mana buku yang perlahan menjauh dari kita.
×
Berita Terbaru Update