JAKARTA-- Film karya sutradara Anggy Umbara "Keluarga Suami Adalah Hama" siap tayang Minggu depan. Film ini datang membawa tema yang terasa sangat dekat dengan kehidupan pasangan muda Indonesia, tekanan rumah tangga akibat campur tangan keluarga besar, Kamis (14/5/2026).
Diproduksi Umbara Brothers Film bersama VMS Studio, film ini menempatkan konflik domestik bukan sekadar drama pasangan, melainkan benturan antara kewajiban kepada keluarga dan kebutuhan menjaga pernikahan tetap sehat. Film ini mengikuti kehidupan Intan yang diperankan Raihaanun dan Damar yang dimainkan Omar Daniel.
Setelah menikah, keduanya harus tinggal bersama keluarga Damar yang sedang mengalami masalah ekonomi. Perlahan, hubungan mereka berubah penuh tekanan.
Intan digambarkan bukan hanya menjadi istri, tetapi juga seperti tulang punggung pekerjaan rumah. Ia memasak, membersihkan rumah, hingga merawat mertua. Sementara Damar berada di posisi sulit sebagai sulung yang merasa bertanggung jawab terhadap ibu dan adik-adiknya.
Konflik demi konflik berkembang dari hal-hal kecil yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari: komentar keluarga, tuntutan ekonomi, sampai keputusan rumah tangga yang terlalu banyak diintervensi orang lain.
Anggy Umbara mengatakan, film ini sengaja dibuat membumi agar penonton merasa sedang melihat realita di sekitar mereka sendiri.
“Kadang masalah rumah tangga itu bukan datang dari orang ketiga. Justru datang dari hal-hal yang dianggap normal dalam keluarga. Film ini bicara soal batas, tentang bagaimana pasangan menjaga rumah tangganya,” tuturnya pada Press Conference di Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2026).
Ia juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menyudutkan pihak tertentu. Menurut dia, judul film ini memang terdengar keras, tetapi dipilih untuk menggambarkan gangguan kecil yang terus-menerus muncul dan akhirnya merusak hubungan secara perlahan.
Sementara itu, Raihaanun mengaku karakter Intan menjadi salah satu peran emosional yang cukup menguras tenaga selama proses syuting. Ia merasa banyak perempuan mungkin pernah mengalami situasi serupa, meski sering memilih diam.
“Yang berat itu justru adegan-adegan sederhana. Ketika karakter Intan cuma menahan capek, menahan kecewa, tapi tetap harus kelihatan baik-baik saja. Banyak perempuan melakukan itu setiap hari,” katanya.
Raihaanun menyebut film ini bukan hanya bicara tentang mertua atau konflik keluarga, tetapi juga tentang komunikasi pasangan yang perlahan hilang karena tekanan hidup. Topik tentang sandwich generation dan tekanan ekonomi memang terasa sangat relevan dengan kehidupan banyak keluarga muda saat ini.
Film yang akan tayang mulai 21 Mei 2026 ini memang membawa drama emosional yang cukup pekat, tetapi tetap menyisipkan dinamika keluarga yang terasa natural dan "relate" dengan pengalaman banyak pasangan muda.(Gbr).