RADAR-BARRU.COM--Karakteristik peserta didik yang berbeda mengharuskan seorang tenaga pendidik harus mampu memahami setiap karakter dan sikap anak didiknya. Perkembangan peserta didik tentu saja akan mengalami perubahan kualitatif ketika hal tersebut terus digali dan dilatih. Setelah mengetahui karakter dan kepribadian anak atau peserta didik, pendidik akan mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik bersama peserta didik.
Kondisi kelas saat ini hanya berfokus pada penyampaian materi saja, seolah hal utama yang harus diselesaikan adalah kompetensi dasar yang telah disampaikan di awal pembelajaran tanpa memperhatikan beberapa aspek lainnya, seperti pengembangan karakter peserta didik dan keharmonisan interaksi yang seharusnya terjalin antara guru dan anak didiknya.
Seorang siswa yang biasanya memilih diam padahal sebenarnya ingin ikut berkomentar. Karena banyak hal yang mengganggu pikirannya, dikarenakan tidak berani memberikan pendapat sebab rasa takut dan malu yang mengganggu. Tidak berani berkomentar dengan alasan takut salah.
Hal ini sebenarnya membutuhkan kepekaan seorang guru untuk memberikan motivasi sehingga siswa tersebut berani memberikan pendapat tanpa adanya tekanan. Terkadang ada siswa yang ingin memberikan komentar namun menutup rapat keinginannya karena merasa tidak dibutuhkan, namun di luar jam pelajarannya ia begitu semangat dan lancar memberikan pendapatnya ketika bersama teman sebayanya.
Tidak heran ketika di dalam kelas ada seorang anak yang hanya diam tanpa ikut berkomentar seperti peserta didik yang lain. Seorang guru harusnya memperhatikan hal tersebut, tidak hanya berfokus pada siswa yang aktif saja. Ketika ada anak yang diam dan tidak ikut berkomentar hanya dibiarkan begitu saja.
Mengapa hal tersebut terjadi? Karena tidak adanya keharmonisan yang ideal antar peserta didik dan tenaga pendidiknya. Itulah pentinya menjalin komunikasi yang baik.
Florance dalam bukunya Personality Plus for Parents, menyatakan terdapat empat kepribadian dasar yang digunakan untuk mengindentifikasi karakter dan kepribadian anak, salah satu di antaranya adalah kepribadian phlegmatis yang dijuluki dengan Si pengamat.
Anak dengan kepribadian seperti ini membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Anak berkepribadian phlegmatis tidak suka mengambil risiko, tantangan, dan kejutan. Dibandingkan dengan tipe temperanmen yang lain, kepribadian phlegmatis cenderung lebih stabil.
Anak dengan kepribadian tersebut tentu di dalam kelas hanya memilih diam, tidak suka mengambil risiko, tidak butuh banyak bicara, namun suka mengucapkan hal tepat di waktu yang tepat. Hal ini mungkin saja terjadi ketika berada di antara teman kelas di luar pembelajaran.
Anak berkepribadian phlegmatis memiliki ciri-ciri tertentu, di antaranya: sederhana, tenang dan santai, cenderung diam dan menjadi pengamat. Sehingga julukan untuk orang kepribadian phlegmatis sebagai “Si Pengamat”.
Sebaiknya seorang tenaga pendidik harus lebih mampu memahami setiap kepribadian dari peserta didiknya. Salah satu hal yang bisa dilakukan ketika bertemu dengan peserta didik berkepribadian phlegmatis adalah sebisa mungkin penuh dengan persahabatan dan tanpa ancaman. Sikapnya yang cenderung menjadi pengamat dan pendengar yang baik, sebaiknya didekati dengan memberikan beberapa motivasi-motivasi yang bisa membangkitkan semangat.
Anak berkepribadian phlegmatis umumnya bersikap pasif, sehingga orang tua atau guru harus lebih aktif saat berinteraksi dengan anak tersebut. Adapaun beberapa pola asuh yang sebaiknya dilakukan oleh setiap orang tua dan pendidik di sekolah, seperti:
- Diarahkan secara bertahap; anak dibimbing dan didampingi dalam memahami pelajaran yang harus dipelajari.
- Membantu anak dalam membuat target; saat anak atau peserta didik memiliki pilihan yang harus dipilih, sebaiknya orang tua atau guru membantu mengarhkan anak tersebut. Memberikan pendapat yang bisa dijadikan pertimbangan oleh anak atau peserta didik tersebut.
- Tidak memarahi apalagi sampai mengancam anak kepribadian phlegmatis
- Peka terhadap perasaan anak dan kondisi anak/peserta didiknya.
Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru pada anak/peserta didik dengan kepribadian phlegmatis.
Penulis: Titi Ramsi
Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar