RADAR-BARRU.COM-- Kongres perempuan ke IV dilaksanakan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki Rabu 07 September 2022. Yang di hadiri kurang lebih 250 orang peserta dari 34 Provinsi seluruh Indonesia.
Kongres Perempuan Indonesia dibuka oleh Siti Fadilah Supari dan Chandra Motik, serta beberapa aktifis perempuan.
Eva Bande aktifis Agraria dari Sulawesi Tengah hadir sebagai pemandu kongres."Kongres Perempuan ini dihadiri oleh para aktifis perempuan yang bekerja diberbagai bidang, mudah-mudahan sebagai langkah awal pergerakan perempuan di Indonesia. Ini adalah kongres yang ke IV. Saya harap kongres ini bisa ada satu pernyataan sikap bersama diberbagai tempat, keadaan, masalah dengan dinamika masing-masing itu mengeluarkan suatu sikap," ujar Eva Bande.
"Dengan forum ini, kita bisa mengawal sehingga kejadian yang kita harapkan, jadi tidak hanya melahirkan narasi-narasi atau tulisan-tulisan. Bukan, tapi ini harus dikawal oleh kita semua yang punya kepentingan-kepentingan untuk suatu perubahan keadaan yang lebih baik dan lebih adil bagi seluruh rakyat Indonesia dimanapun dan ditempat manapun," ungkap Eva.
"Tujuan dari kongres ini adalah merajut dari potensi dari beragam orang, beragam tempat, beragam isu yang ini menjadikan suatu sikap bersama untuk suatu perubahan yang lebih baik. yakni ini akan dipublikasi dan dikawal oleh para aktivis yang bermacam-macam ini supaya bisa merubah kebijakan. Kita akan berupaya terus menerus untuk menjadi yang lebih baik paling tidak untuk generasi kita," imbuhnya.
"Kongres perempuan ini didukung oleh Women's Cultural Network. Di kawal oleh aktifis perempuan agar berupaya terus menerus menjadi generasi yang lebih baik. Kongres ini akan melahirkan manifesto," paparnya.
"Isu yang dibahas tentu dari semua bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, hukum, kemudian tentang agraria dan lingkungan hidup. Kita nanti akan liat di komisi ini karena nanti sekalian akan pembagian komisi dengan isu nya, karena setelah ini akan keluar gambaran-gambaran disetiap isu yang akan keluar," urainya.
"Pelaku dari produksi pangan adalah perempuan, tapi perempuan mengalami penurunan. Jumlah perempuan petani menurun hanya tinggal 40%, turunnya angka itu diakibatkan dengan langka nya tanah, langka nya tanah ini diakibatkan karena adanya ekstraksi dari industri ekstraktif. Sementara produksi pangan kita, negara pun mencatat ada dikelompok perempuan," pungkasnya.
Sumber: radar-barru.com