RADAR-BARRU.COM- Mantan Anggota Komisi V DPR RI Muhammad Aras menyalurkan bantuan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) kepada puluhan ribu orang anak yang tersebar di seluruh satuan pendidikan diwilayah Barru.
Jubir Aras, menjelaskan bantuan ini merupakan aspirasi yang diperjuangkan Muhammad Aras ke Kemendikbudristek RI untuk membantu pelajar di Barru.
"Yang menerima siswa yang siswa SD, siswa SMP, siswa SMA, dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah mahasiswa," jelas dia.
Setiap anak SD berhak mendapatkan dana bantuan beasiswa senilai Rp450 ribu, SMP menerima Rp750 ribu dan SMA menerima Rp1.800.000.
Dia menjelaskan setiap siswa penerima PIP telah dibuatkan melalui rekening BRI dan BNI atas nama penerima sehingga uang bantuan itu ditransfer langsung ke rekening bersangkutan.
Penyaluran bantuan dana beasiswa PIP ini telah dilangsungkan serentak seluruh Indonesia.
"Jadi tidak ada huhungannya dengan politik, ini murni Aspirasi Aras sewaktu menjadi Anggota DPR RI dapil 2 Sulsel.
Sejak menjadi Anggota DPR RI Aras, sudah memasukan program di Kabupaten Barru mulai program Bedah rumah, program WC, program Beasiswa, program jembatan dan jalan provinsi dan Kabupaten.
"Kenapa kami tidak mau masuk sosialisasi di Sekolah-sekolah, karena kami tidak mau hubunkan orang siswa dengan politik," kata Awal.
Lanjut Awal, makanya kami tidak mau masuk sekolah sosialisasi, karena itu kita hindari agar orang tua terhindari politik.
Cukup, kepala sekolah buat surat keterangan aktivasi dan surat keterangan aktivasi rekening simpel PIP ditujukan ke BRI sehingga pencairan uang beasiswa segera cair.
"Jadi ini murni tidak ada hubungan dengan politik, murni program bapak Muhammad Aras, dan ini berlaku seluru indonesia." kata Awal.
Salah satu pihak kepala Sekolah, yang ditemui wilayah Kecamatan Tanete Rilau, beberapa hari lalu, mengatakan dirinya punya siswa termasuk penerima, namamu mengaku dirinya agak ketakutan karena adalah tertentu.
"Inikan tahun politik pak, yang punya program beasiswa ini salah satu calon sehingga kita ndak kita berani," kata salah, satu kepala sekolah.
Tim: redaksi