MAKASSAR--Pelaksanaan Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulawesi Selatan belum punya kepastian agenda, namun intrik menuju pemilihan ketua masih menghangat. Deretan nama-nama yang berpeluang untuk bertarung terus bermunculan.
Kali ini, figur perempuan mulai mengemukan. Andi Ina Kartika Sari digadang-gadang oleh sejumlah pentolan DPP Golkar untuk ikut bersaing. Dia satu-satunya srikandi Golkar-untuk saat ini- dipersiapkan untuk ikut berkontestasi.
Seperti dikutif media Rakyatsulsel, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, sekaligus bendahara Partai Golkar Sulswl, ikut menguat sebagai salah satu calon Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel). Walau jarang disebut, Bupati Kabupaten Barru itu nyatanya dibidik oleh petinggi Golkar untuk turut diusung dalam musyawarah daerah nanti.
Ketua Harian Partai Golkar Sulsel, Kadir Halid membeberkan hal tersebut. Menurut dia, nama Bupati Barru itu mengemuka lantaran didorong oleh pentolan DPP Golkar untuk maju sebagai calon ketua Golkar Sulsel.
"Ibu Andi Ina itu didorong oleh Pak Idrus Marham (Wakil Ketua DPP Golkar) dan Pak Muhiddin (Korwil Golkar wilayah Sulawesi)," beber Kadir kepada rakyatsulsel.
Kadir mengatakan, Andi Ina secara pribadi memang tidak begitu berambisi untuk menakhodai Golkar Sulsel. Buktinya, lanjut dia, selama ini tidak pernah melakukan sosialisasi ataupun lobi-lobi internal seperti yang dilakukan oleh nama-nama yang masuk bursa kandidar. Meski begitu, dorongan dari para tokoh dan senior Golkar terus mengalir kepada Bendahara Golkar Sulsel tersebut.
"Ibu Andi Ina itu, kan, tidak pernah sosialisasi. Melakukan pertemuan juga tidak pernah. Makanya bukan karena keinginan pribadi (untuk maju). Itu murni dorongan dari Pak Idrus dan Pak Muhiddin agar dia maju sebagai calon ketua Golkar Sulsel," beber Kadir.
Sebelumnya, sejumlah nama masuk bursa sebagai bakal calon ketua Golkar Sulsel. Mereka yakni petahana Ketua Golkar Sulsel sekaligus anggota DPR RI Taufan Pawe, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, mantan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, dan eks anggota DPR RI, Supriansa.
Dari nama-nama tersebut, paling aktif melakukan manuver politik yakni Munafri Arifuddin alias Appi. Bukan hanya melakukan penjajakan ke daerah-daerah untuk mendapat dukungan, Appi juga diketahui sempat sowan ke senior Golkar sekaligus mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) dan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia.
Bahkan sejauh ini, Ketua DPD II Golkar Makassar itu mengeklaim telah mengantongi 17 dukungan dari DPD II Golkar se-Sulsel.
Hanya saja, menurut Kadir, peta kekuatan dukungan itu masih perlu dilihat ulang mengingat keputusan akhir tetap merujuk pada DPP partai. "Tapi pertanyaannya, apakah itu mendapat respons dari DPP?," imbuh dia.
Apalagi, kata dia, dalam beberapa perhelatan pemilihan ketua umum partai tingkat daerah, hasil pemilihan ketua selalu berakhir aklamasi. Hal itu juga menurut Kadir kemungkinan jadi alasan atau faktor DPP Golkar belum mengeluarkan jadwal Musda untuk Golkar Sulsel dikarenakan belum ada nama yang disepakati untuk diusung bersama-sama.
"Trendnya itu selalu aklamasi. Saya melihat, DPP belum memberikan jadwal pelaksanaan musda sebelum calonnya sudah klop. Tapi itu cuma pandangan saya," beber Kadir.
Sama dengan kandidat lainnya, Kadir bilang, hingga sekarang masih gencar melakukan komunikasi politik di tingkat elite partai Golkar agar mendapat restu maju di Musda Golkar Sulsel nantinya. Ia hanya berpesan bahwa siapapun terpilih nantinya bisa kembali membesar Golkar di Sulsel.
"Yang pasti, siapa pun yang akan jadi, harus mampu memenangkan Golkar dan kembali merebut kembali jabatan ketua DPRD Sulsel," imbuh dia.
Adapun, mengenai jadwal Musda Golkar Sulsel, Kadir mengaku belum mengetahui waktu pelaksanaannya sebab itu ditentukan oleh DPP Golkar. "Sejauh ini, kami di Sulsel masih menunggu penetapan jadwal dari DPP," kata legislator DPRD Sulsel tersebut.
Pakr komunikasi politik dari Universitas Hasanuddin, Dr. Hasrullah, menilai peluang Andi Ina terbuka lebar berkat rekam jejaknya yang kuat, baik di legislatif maupun eksekutif selama ini.
“Andi Ina punya pengalaman pernah ketua DPRD Sulsel. Jadi kalau menyangkut mentalitas, tentang politisi wanita, kemudian dia bisa menyelesaikan satu periode, itu satu smart politik yang dia miliki,” ujar Hasrullah.
Menurut dia, selama menjabat ketua DPRD Sulsel, Andi Ina mampu memberi warna tersendiri dalam dinamika politik, terutama dalam konteks keterwakilan perempuan. Kini, dengan posisinya sebagai Bupati Barru, dia dinilai memiliki basis dan legitimasi politik yang lebih kuat.
“Jadi wajar kalau dia didorong maju sebagai calon ketua Golkar. Dia punya kesempatan dan punya kans yang besar. Apalagi posisinya sekarang sebagai bupati. Kalau keterwakilan wanita, boleh saja, kenapa tidak?” imbuh Hasrullah.
Hasrullah menegaskan, pengalaman Andi Ina tidak hanya terbatas di legislatif. Selain memimpin DPRD Sulsel selama satu periode penuh, ia juga terlibat dalam sejumlah dinamika politik di parlemen yakni menggulirkan hak angket, yang membuktikan ketahanan dan ketajaman politiknya.
“Dia punya pengalaman politik praktis, baik di pemerintahan yang sementara dia jalani maupun sebagai politisi. Banyak hal yang bisa dia selesaikan,” ujar dia.
Menurut Hasrullah, figur perempuan seperti Andi Ina justru bisa menjadi penengah di tengah faksi-faksi yang kini ada dalam tubuh Golkar Sulsel. Ketika ditanya apakah figur perempuan bisa menjadi solusi di tengah kerasnya politik internal Golkar, Hasrullah menekankan perlunya pendekatan politik feminisme.
“Saya kira politik feminisme itu tetap dibutuhkan. Srikandi politik Andi Ina itu sebagai alternatif terbaik untuk membawa Golkar lebih bagus nanti,” ujar dia.
Terkait tantangan yang akan dihadapi Andi Ina bila akhirnya memimpin Golkar Sulsel, Hasrullah menilai hal itu bukan hal baru.
Sumber: rakyatsulsel.