RADAR-BARRU.COM---Barru merupakan Kabupaten yang memiliki panjang garis pantai 78 km yang membentang dari perbatasan Pangkep-Barru dan Barru-Pare pare, hal tersebut tentu membuat Barru memiliki potensi sumber daya alam bahari yang sangat kaya.
Terkait dengan sumber daya alam yang dimiliki, Dinas Perikanan Kabupaten Barru bekerjasama PT. TGS Geophysical Indonesia mengadakan pemetaan terkait survey keberadaan migas di sepanjang perairan Kab. Barru.
Bertempat di Ruang Data Setda Kab. Barru, PT. TGS Geophysical Indonesia sebagai pemrakarsa kegiatan melaksanakan sosialisasi dan musyawarah dengan nelayan pemilik rumpon di perairan Barru pada kegiatan survey seismik multi clien 2D yang secara resmi dibuka oleh Setda Kabupaten Barru Dr. Ir. Abustan, M.Si.
Setda Barru menyampaikan bahwasannya kegiatan ini adalah masih dalam tahapan survey tentang pemetaan adanya potensi migas di perairan Barru yang nantinya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah.
"Kami harapkan dalam survei ini bisa disepakati oleh kelompok nelayan dan kegiatan bisa berjalan dengan lancar," harapnya, Kamis (22/02/2024) siang.
Sementara itu, Franky selaku Senior Public Relations PT. TGS Geophysical Indonesia mengatakan tujuan dilakukannya survey ini adalah untuk mengetahui potensi migas yang ada di perairan Barru yang notabennya disana ada aktivitas para nelayan. Untuk itu diadakan sosialisasi seperti ini agar para nelayan bisa memahami maksud dan tujuan dari kegiatan ini. Ini merupakan study awal untuk mencari data lokasi keberadaan migas diperairan Barru.
Rencananya survey ini dilakukan diatas 12 mil dari laut dengan menggunakan kapal khusus yang akan melakukan survey seismik 2D. Dimana nantinya disaat kapal melintas akan melewati rumpon nelayan yang bisa mengakibatkan kerusakan kapal.
"Jadi untuk memperlancar jalannya survey, kami akan melakukan koordinasi dengan para nelayan terkait pembongkaran rumpon sekaligus memberikan kompensasi pembersihan sementara rumpon yang akan kami bongkar akan disimpan di Pelabuhan Polejiwa Kec. Tanete Rilau," tegasnya.
Ditambakan olehnya, bahwa kegiatan ini akan dilakukan selama sebulan dari akhir bulan Februari ini dan setelah itu para nelayan bisa beraktifitas kembali. Nantinya ini akan menjadi data untuk dipergunakan oleh pemerintah dalam proses pembangunan migas ke depannya
Hal positif disampaikan Ketua Kelompok Nelayan Lautan Sejahtera Akkas mewakili aspirasi nelayan diwilayahnya, bahwasannya kegiatan ini sangat menarik dan tentunya agar pihak pelaksana memikirkan dampak dari kegiatan ini selanjutnya.
"Kami harapkan agar yang terkena kompensasi harus sesuai dengan jumlah dan biaya yang dikeluarkan untuk satu rumpon," pintanya.(*)